Rabu, 04 Januari 2012

fase Perkembangan Peserta Didik


Tugas Mandiri                                                                                                   Dosen pembimbing
Perkembangan Peserta Didik                                                                           Nurzena.M.Ag




PASE-PASE DAN DIMENSI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
DI SUSUN OLEH
ADE RISKA SUCIANI
NURHALIZA
SULTONI MANAN
TASWIRUDIN

TUTI YULINDI ANDINI
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2011
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, yang dengan rahmat dan inayah-Nya. Makalah ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Perkembangan Peserta Didik yang telah diberikan oleh dosen pembimbing tepat waktunya walaupun cukup sederhana.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Nurzena M.Ag selaku dosen pembimbing mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Penulis juga berterima kasih pada teman-teman yang telah memberi pengarahan dan petunjuk dalam pembuatan makalah ini. 
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari dosen pembimbing maupun teman-teman sangat penulis  harapkan tegur sapanya untuk perbaikan makalah ini dan selanjutnya.
Kepada Allah SWT, kami memohon taufik dan hidayah-Nya semoga dalam pembuatan makalah ini senantiasa dalam keridhaannya-Nya. Amin.

                                                                        Pekanbaru,  April 2011


                                                                                     Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................ 1
DAFTAR ISI.............................................................................................................. 2
BAB I. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang................................................................................................ 3
  2. Tujuan............................................................................................................. 3
BAB II. PEMBAHASAN
  1. Usia Sekolah Dasar......................................................................................... 4
  2. Usia sekolah Lanjutan Tingkat Pertama............................................................ 6

BAB III. PENUTUP
  1. Kesimpulan..................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 16










BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Secara umum konsep perkembangan dikemukakan oleh Werner sebagai berkut: perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenetis, bahwa perkembanan berlangsung dari keadaan gobal dan kurang berdiferensiasi sampai keadaan dimana diferensiasi, artikulasi, dan interaksi meningkat secara betahap. Proses diferensiasi itu diartikan sebagai prinsip totalitas itu lambat lun bagiannya menjadi semakin nyata dan  berubah dan bertambah jelas dalam rangka keseluruhan.
Sejak bayi dilahirkan, ia telah mempunyai “gambaran total atau gambaran lengkap” tentang dunia inihanya saja gambaran tersebut kabur. Perubahan yang terjadi berlangsung terus pada tahapan-tahapan perkmbangan berikutnya dengan cara-cara yang samaapa yang ada pada perkembangan sebelumnya diteruskan ada perkembangan tahapan perkembangan berikutnya,sedangkan perubahan kearah diferensiasi yaitu timbulnya karakteristiknyabaru yang berasal dari sesuatu yang sebelumnya masih global disebut diskontinuitas.

B.     Tujuan
Dalam pembuatan makalah ini penulis mempunyai maksud dan tujuan antara lain :
a.       Memberi pemahaman tentang perkembangan peserta didik.
b.      Untuk bahan diskusi pada mata kuliah perkembangan peserta didik.
c.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah yang diberikan dosen pembimbimg.






BAB II
PEMBAHASAN
A.     Usia Sekolah Dasar
Perkembangan Intelektual
Pada usia dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti membaca, menulis, dan menghitung).
Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak,maka sekolah dalamhal ini guru seyogyanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pertanyaan, memberikan komentar atau pendapat tentang materi pelajaran yang dibacanya atau dijelaskan oleh guru, membuat karangan, menyusun laporan.
Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara berkomunikasi, dimana pikirandan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata,kalimat, bunyi, lambang, gambar, atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.
Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa yaitu :
  1. Proses jadi matang dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.
  2. Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan/kata-kata yang didengarnya. Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak
Dengan dibekali pelajaran bahasa di sekolah, diharapkan peserta didik dapat menguasai dan mempergunakannya sebagai alat untuk :
  1. Berkomunikasi dengan orang lain
  2. Menyatakan isi hatinya
  3. Memahami keterampilan mengolah informasi yang diterimanya
  4. Berpikir (menyatakan gagasan atau pendapat)
  5. Mengambangkan kepribadiannya seperti menyatakan sikap dan keyakinannya.
Perkembangan Sosial
Pada usia ini anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain).
Berkat perkembangan sosial anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosila ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Hal ini dilakukan agar peserta didik belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati dan betanggung jawab.
Perkembangan Emosi
Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengndalikan emosinya sangatlah berpengaruh pada anak.
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Memgingat hal tersebut, maka guru hendaknya mempunyai kepedulian untuk menciptakan situasi belajar yang menyenangkan atau kondusif bagi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif. Upaya yang dilakukan antara lain :
  1. Mengembangkan iklim kelas yang bebas dari ketegangan
  2. Memperlakukan peserta didik sebagai individu yang mempunyai harga diri
  3. Memberikan nilai secara objektif
  4. Menghargai hasil karya peserta didik
Perkembangan Emosional
Anak mulai mengenal konsep moral pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin anak tidak mengerti konsep moral ini, tapi lambat laun anak akan memahaminya. Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti peraturan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk.
Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaannya ditandai dengan ciri-ciri sebagaiberikut
Sikap keagamaan bersifat reseptif disertai dengan pengertian
  1. Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara asional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
  2. Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral.
  3. Periode usia sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya.
Perkembangan Motorik
Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang maka perkembangan motorik anak sudah terkoordinasi dengan baik.
Sesuai dengan perkembangan fisik (motorik) maka di kelas-kelas permulaan sangat tepat diajarkan :
  1. Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar
  2. Keterampilan dalam mempergunakan alat-alat olahraga
  3. Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dsb.
  4. Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan, ketertiban dan kedisiplinan.

B.     Usia Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Masa Remaja
Masa remaja (Adolesense) adalah tumbuh atau menjadi dewasa. Remaja berlangsung kira-kira sejak umur 15/16 atau 17 tahun dan berakhir pada saat individu matang secara seksual sampai mencapai usia matang secara hukum. Masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam rentangan kehidupan. masa ini dikenal sebagai periode peralihan, dimana individu mencari identitas atau sering juga disebut sebagai masa tidak realistis dan masa ambang dewasa. Akibat perubahan dan peralihan, remaja bersikap ambivalen yaitu disuatu pihak ingin diperlakukan sebagai anak kecil, namun di pihak lain ingin diperlakukan dan dakui sebagai orang dewasa meski segala kebutuhan masih minta dipenuhi oleh orangtuanya sebagaimana halnya anak kecil.
Perubahan yang bersifat universal yang terjadi pada remaja baik fisik, prilaku, sikap dan keadaan fisiknya:
  1. Meningkatnya emosi yang biasanya berhubungan dengan perubahan fisik
  2. Perubahan bentuk tubuh, minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosialnya.
  3. Dengan perubahan minat dan prilaku, maka nilai juga berubah. Apa yang dianggap penting pada masa kanak-kanak sudah tidak dianggap penting lagi.
  4. Umumnya remaja bersikap ambivalen terhadap setiap perubahan. mereka menuntut dan menginginkan kehebatan, tetapi pada saat yang bersamaan ia sering takut dengan risiko dan tanggung jawab yang harus dipikulnya.
Rata-rata indentifikasi yang agak universal menyangkut rentang waktu biasanya diidentifikasikan sebagai usia antara 13-18tahun. Sedangkan yang menyangkut kejadian-kejadian penting biasanya disepakati beberapa perubahan diantaranya:
  1. Perkembangan aspek-aspek biologis
  2. Menerima peranan dewasa berdasarkan pengaruh kebiasaan masyarakat dimana ia dibesarkan
  3. Mendapatkan kebiasaan emosional dari orang tua dan orang dewasa
  4. Berusaha mendapatkan pandangan hidup sendiri
  5. Merealisasi suatu identitas sendiri dan dapat mengadakan partisipasi dalam kebudayaan pemuda sendiri
Ciri-Ciri Masa Remaja
  1. Masa remaja adalah salah satu periode yang penting dalam proses prubahan baik dalam pengertian pertumbuhan maupun perkembangan yang terjadi secara cepat
  2. Masa remaja adalah periode peralihan dimana status individu tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan
  3. Masa remaja sebagai periode perubahan yaitu sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik
  4. Masa remaja sebagai usia bermasalah
    1. Sepanjang kanak-kanak masalahnya sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah.
    2. Remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bentuk orang tua dan guru-guru.
  1. Masa remaja sebagai masa mencari identitas yaitu mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak puas lagi jadi sama dengan teman-teman dalam segala hal
  2. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa yaitu remaja mulai memusatkan diri pada prilaku yang dihubungkan dengan status dewasa. Misalnya merokok, minum minuman keras menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perbuatan seks. Mereka menganggap perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.
Masa Remaja di Pedesaan dan Perkotaan
Masa remaja dipedesaan cenderung lebih sangat singkat jika dibandingkan dengan masa remaja di perkotaan. Remaja dipedesaan cenderung lebih banyak menghabiskan masa remajanya untuk mencari uang. Remaja terkadang diharuskan untuk menikah pada usia muda, bahkan dibawah umur. Orang tua mereka beranggapan apabila anak gadisnya sudah menikah, berarti akan mengurangi beban yang harus ditanggung.
Lain halnya dengan negara-negara yang sudah maju dan kota-kota, anak-anak sampai umur 21 tahun masih belum diberi taggungjawab dan kewajiban seperti orang dewasa. Mereka dianggap masih perlu ditolong, dibimbing, dan dibina. Mereka masih mempersiapkan diri untuk menempuh masa dewasa, masa bertarung, dan berlomba mencari kehidupan yang menyenangkan.
Masalah-Masalah dan Gangguan-Ganguan Remaja
Obat-obatan dan alkohol
Amerika serikat memiliki tingkat remaja pengguna obat-obatan tertinggi dibandingkan dengan semua negara industri maju. Tahun 1960-an dan tahun 1970-an adalah suatu masa yang ditandai dengan meningkatnya penggunaan obat-obatan oleh remaja. Sejak pertengahan tahun 1980-an telah timbul kecendrungan penurunan yang kecil dalam penggunaan obat-obatan dikalangan remaja, tetapi pada awal tahun 1990-an tercatat suatu kecendrungan peningkatan dalam penggunaan obat-obatan. Alkohol adalah obat-obatan yang paling banyak digunakan oleh para remaja. Alkohol yang disalahgunakan oleh para remaja merupakan suatu masalah. Minuman-minuman keras merupakan hal yang umum. Kokain adalah obat yang sangat controversial. Penggunaannya oleh anak-anak sekolah menengah atas pertama kali menurun dalam kurun waktu 8 tahun 1987, suatu kecenderunagn yang terus berlanjut. Perkembangan orang tua, teman-teman sebaya, dan penggunaan obat-obatan oleh para remaja.
Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja mengacu kepada suatu rentan perilaku yang luas, dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial kepelanggaran status hingga tindakan-tindakan kriminal. Untuk kepentingan hukum, suatu perbedaan dibuat antara pelanggaran indeks (seperti tindakan-tindakan kriminal terlepas apakah dilakukan oleh remaja atau orang dewasa) dan pelanggaran status (dilakukan oleh pemuda di bawah usia tertentu). Faktor yang mendorong kenakalan meliputi identitas negatif, derajat pengendalian diri, awal mula kenakalan, jenis kelamin laki-laki, harapan-harapan yang rendah pada pendidikan dan komitmen rendah terhadap pendidikan, kuatnya pengaruh teman sebaya dan rendahnya penolakan terhadap tekanan teman sebaya, kegagalan orang tua untuk memantau anak remaja mereka secara memadai, disiplin yang tidak efektif oleh orang tua, dan hidup di suatu lingkungan kota, yang angka kriminalitasnya tinggi, dengan mobilitas yang tinggi.
Bunuh Diri
Angka bunuh diri meningkat. Dimulai kira-kira pada usia 15 tahun, angka bunuh diri meningkat secara dramatis. Faktor-faktor proksimal dan distal terlibat dalam sebab-sebab bunuh diri.
Perubahan pada Diri Remaja dalam Beberapa Dimensi
  • Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk bereproduksi.
  • Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal. Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi.
  • Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka. Misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dan sebagainya.
  • Dimensi Psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini suasana hati bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Chiskszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari suasana hati “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan suasana hati yang drastis pada para remaja seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah.

Karakteristik Remaja
Perkembangan fisik
Masa remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan kehidupan individu, dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Masa pertama yang terjadi pada fase pranatal dan bayi. Bagian-bagian tubuh tertentu pada tahun-tahun permulaan kehidupan secara proporsional terlalu kecil, namun pada masa remaja proporsionalnya menjadi terlalu besar, karena terlebih dahulu mengalami kematangan daripada bagian-bagian yang lain. Pada masa remaja akhir, proporsi tubuh individu mencapai proporsi tubuh orang dewasa dalam semua bagiannya. Dalam perkembangan seksualitas remaja ditandai dengan dua ciri yaitu ciri-ciri seks primer dan ciri-ciri seks sekunder.
Perkembangan kognitif (Intelektual)
Ditinjau dari perkembanga kognitif menurut Piaget, masa remaja sudah mencapai tahap operasi formal (operasi = kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan). Keating merumuskan lima pokok yang berkaitan dengan perkembangan berpikir operasi formal, yaitu sebagai berikut :
1.   Berlainan dengan cara berpikir anak-anak yang tekanannya kepada kesadarannya sendiri disini dan sekarang, cara berpikir remaja berkaitan erat dengan dunia kemungkinan. Remaja mampu menggunakan abstraksi dan dapat membedakan yang nyata dan konkret dengan abstrak dan mungkin.
2.   Melalui kemampuannya untuk menguji hipotesis, muncul kemampuan nalar secara ilmiah.
3.   Remaja dapat memikirkan tentang masa depan dengan membuat perencanaan dan mengekplorasi berbagai kemungkinan untuk mencapainya.
4.   Remaja menyadari tentang aktivitas kognitif dan mekanisme yang membuat proses kognitif itu efisien dan tidak efisien. Dengan demikian, introspeksi (pengujian diri) menjadi bagian kehidupannya sehari-hari.
5.   Berpikir operasi formal memungkinkan terbukanya topik-topik baru dan ekspansi berpikir.
Implikasi pendidikan atau bimbingan dari periode berpikir operasi formal ini adalah perlunya disiapkan program pendidikan atau bimbingan yang memfasilitasi perkembanga kemampuan berpikir remaja. Upaya yang dapat dilakukan seperti :
  1. Penggunaan metode mengajar yang mendorong anak untuk aktif bertanya, mengemukakan gagasan atau mengujicobakan suatu materi
  2. Melakukan dialog, diskusi dengan siswa tentang masalah-masalah sosial atau berbagai aspek kehidupan seperti agama, etika pergaulan dan pacaran, politik, lingkungan hidup, bahayanya minuman keras dan obat-obatan terlarang.
Perkembangan Emosi
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas, yaitu perkembangan emosi yang tinggi. Pertumbuhan fisik, terutama ogran seksual mempengaruhi perkembangan emosi dan dorongan baru yang dialami sebelumnya seperti perasaan cinta. Pada usia remaja awal, perkembanga emosinya menunjukkan sifat yang sensitif dan reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa, emosinya bersifat negatif dan tempramental. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya. Mencapai kematang emosional merupakan tugas perkembangan yang sangat sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya.
Perkembangan sosial
Pada masa remaja berkembang ”social cognition”, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Ramaja memahami orang lain sebagi individu yang unik, baik menyangkut sifat pribadi, minat,nilai-nilai, maupun perasaannya.
Pada masa ini juga berkembang sikap ”conformity”, yaitu kcenderungan untuk menyerah atau megikuti opini, pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran atau keinginan orang lain (teman sebaya).
Apabila kelompok teman sebaya yang diikuti menampilkan sikap dan perilaku yang secara moral dan agama dapat dipertanggungjawabkan maka kemungkinan besar remaja tersebut akan menampilkan pribadinya yang baik. Sebaliknya, apabila kelompoknya itu menampilkan sikap dan perilaku yang melecehkan nilai-nilai moral maka sangat dimungkinkan remaja akan melakukan perilaku seperti kelompoknya tersebut.
Perkembangan moral
Melalui pengalaman atau berinteraksi sosial dengan orang tua, guru, teman sebaya atau orang dewasa lainnya, tingkat moralitas remaja sudah lebih matang jika dibandingkan dengan usia anak. Mereka sudah lebih mengenal tentang nilai-nilai moral atau konsep-konsep moralitas, seperti kejujuran, keadilan, kesopanan dan kedisiplinan.
Menurut Adam dan Guallatta terdapat berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orang tua mempengaruhi moral remaja, yaitu :
    1. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat moral remaja dengan tingkat moral orang tua.
    2. Ibu-ibu remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam tahapan nalar moralnyadaripada ibu-ibu yang anaknya nakal, dan remaja yang tidak nakal mempunyai skor yang lebih tinggi dalam kemampuan nalar moralnya daripada remaja yang nakal.
    3. Terdapat dua faktor yang dapat meningkatkan perkembangan moral anak atau remaja yaitu (a) orang tua yang mendorong anak untuk diskusi secara demokratis dan terbuka mengenai berbagai isu dan (b) orang tua yang menerapkan disiplin terhadap anak dengan teknik berpikir induktif.
Perkembangan kepribadian
Kepribadian merupakan sistem yang dinamis dari sifat-sifat, sikap dan kebiasaan yang menghasilkan tingkat konsistensi respons individu yang beragam. Sifat-sifat kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial, kognitif dan niali-nilai. Masa remaja merupakan saat berkembangnya identity (jati diri). Perkembangan ”identity” merupakan isu sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa. Apabila remaja gagal mengintegrasikan aspek-aspek dan pilihan atau merasa tidak mampu untuk memilih, maka dia akan mengalami kebingungan (confusion).
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Pertumbuhan dan perkembangan manusia dimulai sejak terjadinya konsepsi yaitu pertemuan antara ovum dan sperma, pertumbuhan dan perkembangan berlangsung terus dalam kandungan kemudian lahir sampai usia tua dan akhirnya berjhenti pada kematian.
Dari lahir sampai tua perkembangan dibagi dalam empat periode yaitu periode anak, periode remaja, periode dewasa dan periode tua dimana masing-masing periode tidak berdiri sendiri secara terpisah melainkan saling berkaitan. Periode yang mendahului merupakan dasar bagi periode berikutnya dan masing-masing periode memiliki karakteristik sendiri-sendiri.














DAFTAR KEPUSTAKAAN
Sunarto. H, Agung Hartono Ny. Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Rineka Cipta, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar